Partai Komunis Tiongkok temui Jokowi untuk peningkatan hubungan

Jokowi umumkan 16 menterinya berasal dari parpol

Jakarta – Wakil Ketua Dewan Nasional Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok selaku Menteri Hubungan Internasional Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok, Wang Jiarui, menemui Presiden Terpilih Joko Widodo (Jokowi) di Balaikota, Senin.

Kedatangannya yang didampingi Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Xie Feng bertujuan menyampaikan pesan dari Presiden Tiongkok Xi Jinping.

“Tadi diskusi sangat bagus. Saya ke sini ditugaskan oleh Presiden Xi Jinping yang mengucapkan selamat kepada Pak Jokowi yang menjadi presiden terpilih. Kami juga menyampaikan Partai Komunis Tiongkok yang sangat mementingkan dan mengutamakan hubungan kedua negara,” kata Wang di Balaikota, Senin.

Wang juga menyampaikan dirinya dan Jokowi banyak berdiskusi tentang kerjasama di berbagai bidang dan telah mencapai banyak kesepakatan untuk meningkatkan hubungan kedua negara dan juga meningkatkan kerjasama di berbagai bidang.

“Sekarang hubungan Tiongkok dan Indonesia cukup bagus, kami juga ingin Indonesia yang di bawah Presiden Jokowi nanti bisa lebih lanjut meningkatkan kerjasama dan bisa memberi kesejahteraan kepada masyarakat kedua negara.

Masyarakat Tiongkok sangat mementingkan untuk melakukan kerjasama dan pertukaran dengan masyarakat Indonesia karena kami akan senantiasa mendukung pembangunan di Indonesia dan juga akan senantiasa mendukung kerjasama dan kesepakatan kedua negara,” kata Wang.

Sementara itu, Jokowi mengatakan Presiden Xi Jinping secara khusus mengundang kehadirannya pada Konferensi Tingkat Tinggi negara-negara kerjasama ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC) di Beijing November mendatang.

“Nanti akan ada pertemuan antara saya dan Presiden Xi Jinping di Beijing, itu saja,” kata Jokowi singkat yang kemudian bergegas masuk ke dalam kantornya usai mengantar delegasi Tiongkok itu kekuar dari Balaikota.

(antaranews.com)

Posted in (*)

Video Dua Jurnalis Dipenggal ISIS Rekayasa AS?

Jurnalis James Foley yang akan dieksekusi militan ISIS dalam video.
Jurnalis James Foley yang akan dieksekusi militan ISIS dalam video.

DOHA – Munculnya video pemenggalan dua kepala jurnalis Amerika Serikat (AS) James Foley dan Steven Situleh kelompok Islam radikal Islamic State of Iraq and Syiriah (ISIS) beberapa waktu lalu dinilai hanya rekayasa. Hal tersebut seperti dilaporkan saluran Al Jazeera sebagaimana dilansir Arabnews, Sabtu (6/9).

Video tersebut dibuat oleh AS agar dapat dijadikan dalih untuk intervensi Barat terhadap Suriah. Laporan Al Jazeera dikatakan Foley, korban pemenggalan pertama seperti memainkan peran juara bukan sebagai korban. Dari pelacakan gerakan matanya, Foley sedang membaca teks dari autocue.

Selanjutnya video eksekusi terhadap Sotloff, dalam video tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan baik selama maupun pernyataan selama eksekusi.

Foley sebelumnya bekerja di Departemen Luar Negeri AS. Oleh karena itu, Foley kemungkinan memiliki hubungan dengan intelijen. Hal tersebut bisa jadi bekerjasama dalam pembuatan video tersebut.

Al Jazeera mengklaim bahwa video pemenggalan dua jurnalis AS tersebut dapat digunakan untuk membenarkan perang masa depan. Hal itu seperti yang pernah dilakuan oleh presiden AS sebelumnya George Bush dengan dasar Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal. Sehingga pada tahun 2003, AS melakukan invasi ke Irak yang membuat negara tersebut hancur lebur.

(republika.co.id)

Posted in (*)

Rusia: AS Manfaatkan ISIS untuk Gulingkan Assad

Militan ISIS
Militan ISIS

MOSKOW – Rusia keberatan atas tindakan Amerika Serikat (AS) dan 40 negara lainnya untuk menyerang ISIS (negara Islam Irak dan Suriah). Moskow beranggapan serangan itu akan dimanfaatkan AS untuk membantu kelompok oposisi moderat Suriah guna menjatuhkan Presiden Bashar al-Assad.

Mantan penasihat politik Kremlin, Alexander Nekrassov, mengatakan AS sengaja membiarkan eksistensi ISIS di Suriah untuk menumbangkan Assad. “Ini seperti skenario yang digunakan di Libya,” kata Alexander seperti dikutip Aljazeera, Selasa (16/9).

Awalnya, AS akan menggelar serangan udara di daerah-daerah ISIS. Kemudian, upaya membantu kaum oposisi yang dianggap moderat dan pro Barat dilakukan. Oposisi yang menguat inilah yang kemudian menyerang pemerintah resmi Assad untuk digulingkan.

Tak heran, kata Alexander, dalam pertemuan NATO di Newport, Wales, beberapa waktu lalu, AS tidak memasukkan Rusia ke dalam koalisi penyerang ISIS. AS tidak mengajak Rusia untuk memecahkan masalah penyebaran ISIS di Timur Tengah, termasuk pembicaraan tentang kelompok militan lainnya di Irak dan Suriah.

Rusia sendiri masih belum bersikap atas rencana penyerbuan AS dan 39 negara lainnya ke basis-basis kekuatan ISIS. Namun, menurut Alexander, dari sumber-sumber di Kremlin, Moskow menolak rencana serangan udara itu.

(republika.co.id)

Posted in (*)

ISIS muncul setelah Al Qaida tidak laku dijual

ISIS militants gather at an undisclosed location in Iraq's Nineveh province

Jakarta – Anggota Komisi III DPR RI, Ahmad Yani menduga, isu ISIS yang sekarang menghangat merupakan upaya untuk mengalihkan perhatian. Sehingga, isu ISIS perlu dicermati sehingga tidak terjebak.

“Isu ISI termasuk isu global, kita harus cermati. Biasanya isu global ini ditumpangi dengan kepentingan inteligen. ISIS muncul setelah Al Qaida tidak laku dijual,” kata Ahmad Yani di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin.

Isu ISIS, kata politisi PPP itu, harus disikapi secara hati-hati dan perlu dicermati. Jangan sampai isu ISIS adalah isu yang diproduksi sama seperti soal terorisme pada waktu lalu.

 “Jangan juga jadikan ISIS ini sebagai program dan proyek dari inteligen dan ini berbahaya. Sekarang kita baru mendapatkan informasi, menurut saya informasi itu dari media barat. Apakah ISIS yang digembar-gemborkan itu kekejamannya benar adanya sebagaimana faktanya atau itu bagian dari perang wacana atau pembentukan citra, opini sedemikian rupa,” ungkap Yani Yani menambahkan, ada standar ganda yang diterapkan oleh pihak-pihak tertentu dalam kasus ISIS.
Misalnya, kata dia, kalau ada komitmen dengan sisi-sisi kemanusiaan, kenapa tidak pernah ada pernyataan atau mempersoalkan pembantaian yang dilakukan Israel terhadap penduduk Gaza.
“Ini kan jadi standar ganda, maka kita harus cerdas melihat situasi. Jangan sampai isu ISIS ini menutup kebiadaban yang dilakukan Israel, maka diproduksi isu ISIS,” ungkap dia.

Yang pasti, sambung Yani, kita sebagai bangsa Indonesia, tidak ingin lahirnya entitas, organisasi, atau gerakan Islam yang melakukan pemaksaan atau radikalisme terhadap ajaran Islam atau yang lainnya.

“Oleh karena itu, kita harus hati-hati. Saya menolak betul ISIS, apalagi yang ada di negeri ini. Saya menolak adanya gerakan yang memperjuangkan Islam dengan cara-cara yang tidak konstitusional dan yang bertentangan dengan ajaran Islam,” kata Yani.

(antaranews.com)
Posted in (*)

Australia akan kirim 600 tentara untuk perangi IS

Australia akan kirim 600 tentara untuk perangi IS

Perdana Menteri Australia Tony Abbott (Reuters)

Sydney – Perdana Menteri Tony Abbott, Minggu, mengatakan Australia akan mengerahkan 600 tentara ke Uni Emirat Arab (UAE) untuk bergabung dalam koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat memerangi kelompok garis keras Negara Islam (IS).

Pengumuman Abbott itu dilakukan dua hari setelah Canberra menaikkan tingkat siaga teror menjadi “merah” seiring meningkatnya kekhawatiran kembalinya warga Australia yang ikut perang di Irak dan Suriah.

Abbott mengatakan penggelaran sekitar “400 personel angkatan udara dan sekitar 200 anggota militer” dilakukan setelah Washington mengajukan permintaan resmi kepada Australia untuk menyumbang personil pada koalisi internasional guna melawan IS.

Ia mengatakan Australia “tidak mengirim pasukan tempur tetapi membantu usaha-usaha internasional  mencegah krisis kemanusiaan semakin parah”.

“Akan ada keputusan-keputusan lebih lanjut yang akan dibuat sebelum pasukan Australia dilibatkan bagi operasi-operasi tempur di Irak,” kata Abbott dalam jumpa wartawan di Darwin.

“Kendatipun demikian, Australia siap trlibat dalam operasi-opeasi internasional untuk mengacaukan dan melumpuhkan ISIL yang berganti nama IS karena ancaman yang ditimbulkan kelompok itu tidak hanya pada rakyat Irak , tetapi juga rakyat Timur Tengah, bahkan seluruh dunia termasuk Australia.”

Penggelaran pasukan Australia ke UAE– satu pos penting bagi operasi-operasi militer di kawasan itu– akan termasuk delapan pesawat tempur RAAF F/A18, satu pesawat Peringatan dini dan Pengawas Wedgetail E-7A dan satu Pesawat pengisi bahan bakar dan Transpor multi-peran KC-30 A.

(antaranews.com)

Posted in (*)

Bersekutu dengan AS, ISIS Eksekusi Warga Inggris

Warga Inggris, David Haines sebelum dieksekusi ISIS

Warga Inggris, David Haines sebelum dieksekusi ISIS ( REUTERS/SITE Intel Group via Reuters TV)
Kekejaman kelompok militan Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) terus merajalela. Warga Inggris bernama David Haines dieksekusi ISIS dengan cara dipenggal.
Harian Inggris, The Guardian Minggu, 14 September 2014 melaporkan serupa dengan metode eksekusi dua jurnalis asal Amerika Serikat, James Wright Foley dan Steven Sotloff, aksi sadis itu direkam dalam sebuah video dan dirilis ke publik pada Sabtu malam. Dalam video berjudul “A Message to the Allies of America” seorang pria yang sebagian besar wajahnya ditutup terlihat berada di samping Haines.
Sama seperti cara eksekusi dua korban sebelumnya, warga Inggris berusia 44 tahun itu, mengenakan pakaian berwarna oranye dan berkepala plontos. Keduanya terlihat berada di sebuah gurun pasir.
Dalam video berdurasi dua menit dan 28 detik itu, Haines yang diketahui pernah bertugas sebagai anggota militer Angkatan Udara Inggris selama 12 tahun menyampaikan pesan kematiannya di hadapan kamera. Pesan kematian itu secara khusus ditujukan bagi Perdana Menteri David Cameron.
“Anda malah berkoalisi secara sukarela dengan Amerika Serikat melawan ISIS, sama seperti mantan pendahulu Anda Tony Blair. Anda malah meneruskan tren di antara PM kami yang tidak memiliki keberanian untuk mengatakan tidak kepada Amerika,” ungkap Haines.
Sayangnya, lanjut Haines, justru kami warga Inggris, pada akhirnya yang harus membayar atas keputusan egois para anggota parlemen. Selanjutnya, giliran pembunuh Haines yang menyampaikan pesannya di video itu.
“Warga Inggris harus membayar harga atas janji Anda, Cameron, untuk memberikan senjata kepada tentara Peshmerga melawan ISIS. Ironisnya, dia telah menghabiskan satu dekade hidupnya untuk mengabdi kepada AU Inggris yang justru bertanggung jawab atas pengiriman senjata itu,” ungkap si pelaku yang berpakaian serba hitam.
Dia memperingatkan dengan berkoalisi bersama AS untuk terus menghancurkan Muslim Irak dengan mengebom Bendungan Haditha hanya akan membuat Inggris hancur.
“Dan bermain menjadi anjing yang penurut terhadap AS, Cameron, malah akan menyeret Anda dan warga Anda ke dalam peperangan berdarah lainnya dan tidak akan dimenangkan,” imbuh si pelaku.
Di bagian akhir, pelaku menunjukkan sandera lainnya yang diancam akan menjadi target selanjutnya eksekusi ISIS. Sandera itu, diduga merupakan warga Inggris.
Inggris mengecam
Pemerintah Inggris saat ini tengah menyelidiki keaslian video itu. Namun, ini merupakan kejutan bagi Inggris, karena warganya untuk kali pertama dieksekusi ISIS.
Cameron pun mengecam pembunuhan warganya.
“Ini merupakan sebuah pembunuhan pekerja kemanusiaan yang tidak berdosa yang keji dan mengerikan. Saya turut berduka bersama keluarga David Haines yang telah menunjukkan keberanian yang luar biasa dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini,” ungkap Cameron.
Dia berjanji akan melakukan apa pun sesuai dengan kekuasaannya untuk memburu para pembunuh tersebut.
“Saya juga memastikan akan membuat mereka memperoleh hukuman setimpal tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan,” tegas Cameron.
Dukungan juga diberikan Presiden AS, Barack Obama. Selain mengecam, AS menjanjikan akan saling membahu dengan Inggris untuk melawan ISIS.
“Kami akan bekerja dengan Inggris dan koalisi beberapa negara di kawasan Timur Tengah dan seluruh dunia untuk menjatuhkan hukuman serta menghancurkan ancaman ini terhadap rakyat kami dan dunia,” tegas Obama.
AS telah melakukan setidaknya sembilan serangan udara terhadap ISIS pada pekan lalu. Akibat serangan itu, Bendungan Haditha terancam akan jatuh ke tangan militer pemerintah.
Video Haines muncul sebelas hari selang video eksekusi Sotloff dipublikasikan. Dia lahir di Yorkshire Timur, namun dibesarkan di Perthshire. Sebelum diculik dia bermukim di Kroasia bersama istri keduanya, Dragana.
Haines diculik ketika tengah melakukan misi kemanusiaan bersama organisasi bernama Acted. Sebelumnya, dia bekerja di Libya dan Sudan Selatan. Saat di Libya, Haines bekerja sebagai Kepala Misi Orang Berkebutuhan Khusus Internasional, yang membantu warga disabel agar keluar dari kemiskinan dan zona perang.

(viva.co.id)

Posted in (*)

Indonesia Bungkam Malaysia, Riedl Puji Pemain dan Penonton

Alfred Riedl (tengah) dalam konferensi pers seusai laga Indonesia vs Malaysia.
Alfred Riedl (tengah) dalam konferensi pers seusai laga Indonesia vs Malaysia.

SIDOARJO–Timnas Indonesia sukses membekuk Malaysia dengan skor 2-0 dalam pertandingan persahabatan di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Ahad (14/9). Hasil ini lebih baik dibandingkan uji coba pertama melawan Yaman pada pekan lalu yang berakhir 0-0.

Pelatih Indonesia Alfred Riedl mengaku gembira dengan kemenangan ini. Menurut dia, kemenangan ini tidak diperoleh dengan mudah. Sebab Harimau Malaya dinilainya memberikan perlawanan yang keras. Ia memuji para pemainnya yang bermain gemilang.

“Jujur saja, hasil imbang pun wajar, melihat permainan Malaysia yang menyulitkan. Poin pentingnya, kita memberikan performa yang lebih baik dari sebelumnya,” kata pelatih asal Austria ini seperti dikutip laman Liga Indonesia.

Riedl menambahkan, Samsul Arif dkk bisa tampil baik karena waktu latihan yang lebih lama dibandingkan sebelumnya. Ia juga mengapresiasi dukungan suporter Merah Putih yang memadati Stadion Gelora Delta. “Semoga penonton selalu banyak di manapun timnas bermain selanjutnya,” harap Riedl.

Pada laga ini, dua gol tim Garuda berasal dari bunuh diri Muslim Ahmad pada menit ke-64. Kemudian, tandukan striker Samsul Arif dua menit sebelum waktu normal berakhir memperbesar skor kemenangan Indonesia atas tim berjuluk Harimau Malaya itu.
Laga ini menjadi ajang uji kekuatan kedua yang akan berlaga di Piala AFF 2014. Indonesia berada di Grup A sementara Malaysia tergabung di Grup B sehingga pertandingan uji coba ini bisa terlaksana.
(republika.co.id)
Posted in (*)

ISIS Dikeroyok 40 Negara?

Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

ISIS dan bosnya, Abu Bakar al-Baghdadi, bukan hanya nakal. Juga kejam. Dan, kekejamannya telah membuat marah masyarakat internasional. Bayangkan: dua wartawan AS dipenggal lehernya. Suku minoritas Yazidi yang sudah tinggal ribuan tahun di Irak Utara diusir, dibunuh, dan dikejar-kejar. Beberapa perempuannya dijadikan budak seks. Alasannya, karena mereka non-Muslim.

Warga minoritas lain, umat Nasrani, diwajibkan membayar jizyah (pajak) sebagai ongkos perlindungan dan jaminan keamanan. Kalau menolak mereka diusir dari wilayah ISIS.

Sedangkan bagi kelompok lain yang lebih besar seperti Sunni, Syiah, Kurdi, dan lainnya yang menolak bersumpah setia kepada ISIS dan ogah berbaitat kepada sang khalifah, mereka akan dianggap sebagai musuh. Nasib mereka bisa seperti 13 ulama Sunni yang pada 12 Juni lalu dieksekusi mati lantaran alasan tadi.

Pendek kata, sepak terjang ISIS dan al-Baghdadi memang telah membuat warga dunia gusar bin marah. Lalu pertanyaannya, apakah mereka lantas laik dikeroyok oleh sebanyak 40 negara yang tergabung dalam koalisi yang dipimpin AS?

Pada 10 September lalu, Presiden Barack Obama — dalam pidato yang disiarkan televisi — berjanji negaranya akan memimpin sebuah koalisi besar untuk memukul balik ISIS. Koalisi ini, menurut keterangan juru bicara Kementerian Luar Negeri AS dua hari sebelumnya, akan melibatkan lebih dari 40 negara — baik secara langsung maupun dalam bentuk lain.

Sejumlah negara Arab – Mesir, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, Lebanon, Yordania, dan Irak – sudah menyatakan ikut dalam koalisi. Juga negara-negara yang tergabung dalam  NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara). Sedangkan negara-negara lain diperkirakan akan ikut dalam koalisi dalam bentuk lain, misalnya sekadar memberikan pernyataan dukungan.

Gabungan kekuatan militer AS, NATO, dan negara-negara Arab tentu sangat dahsyat. Belum ada negara yang diinvasi oleh koalisi yang dipimpin AS bisa bertahan. Kalau ada perlawanan itu hanya menunggu waktu untuk kemudian akan KO (knock out) alias fight ending atawa menyerah kalah. Lihatlah apa yang terjadi pada Afghanistan Taliban, Irak Saddam Husein, dan Libia Muammar Qadafi.

Sementara itu, yang dihadapi koalisi besar itu adalah Islamic State of Irak and Syria, yang baru dideklarasikan Juni lalu. Wilayah ISIS  hasil mengcaplok daerah-daerah di dua negara, Irak dan Suriah. Sebagai negara baru, kekuatan militer ISIS  tentu tak sebanding dengan koalisi. Bahkan bila dibandingkan dengan jumlah tentara satu negara saja, misalnya Mesir  468.500 personil atau Arab Saudi 233.500 personel.

Apalagi bila dibandingkan dengan kekuatan militer AS yang berjumlah 2.580.255 personel.  Jumlah ini adalah tentara aktif, belum termasuk tentara cadangan dan paramiliter.

Badan Inteligen AS, CIA, memperkirakan ISIS hanya mempunyai kekuatan antara 20 ribu hingga 31.500 milisi. Menurut juru bicara CIA, Ryan Trapani, perkiraan mengenai jumlah kekuatan ISIS dihimpun dari data laporan inteligen dari Mei hingga Agustus 2014. Sebelumnya, kekuatan ISIS diperkirakan hanya 10 ribu hingga 15 ribu personel.

Peningkatan ini lantaran perekrutan besar-besaran sejak Juni lalu,  menyusul kesuksesan ISIS di medan pertempuran, deklarasi kekhalifahan, dan intelijen atau propaganda. Dari jumlah 20 ribu-31.500 milisi, menurut Trapani, sebanyak 15 ribu orang di antara mereka merupakan orang dari luar Irak dan Suriah, termasuk 2.000 orang dari negara-negara Barat.

Meskipun jumlah milisi ISIS sudah bertambah, namun tetap kecil dibandingkan dengan kekuatan koalisi. Bahkan seandainya setiap negara yang tergabung dengan koalisi hanya mengerahkan sebagian kecil personel militernya. Namun, bila dijumlah akan tetap besar. Apalagi pasukan koalisi didukung dengan persenjataan yang pasti lebih modern.

Saya sepakat dengan pengamat Timur Tengah, Abdurrahman al-Rasyid, seperti dimuat di media al-Sharq al-Awsat bahwa untuk menghabisi ISIS hanya cukup dengan mengirimkan pasukan khusus yang terlatih dari beberapa negara berkerja sama dengan militer setempat. Bisa dengan pasukan Irak atau pasukan oposisi Suriah. Apalagi bila serbuan  darat ini dibantu dengan serangan udara yang mematikan. Hasilnya bisa dipastikan cespleng untuk mempereteli kekuatan para pengikut Abu Bakar al-Baghdadi.

Karena itu, kekuatan keroyokan besar koalisi ini semustinya tidak hanya digunakan untuk menghabisi ISIS, tapi juga kelompok-kelompok teroris lain yang kini tumbuh subur di berbagai penjuru dunia. ISIS hanya salah satunya. Kelompok radikal lain masih lebih banyak, yang bila dibiarkan berpotensi membesar seperti ISIS. Dari Jabhatu an-Nasroh dan Ahroru as-Syam di Suriah, Bako Haram di Mali, Anshoru as-Syari’ah di Libia, al-Qaida dan al-Hautsiyun di Yaman, hingga kelompok Abu Sayyaf di Filipina dan lainnya.

Kelompok-kelompok radikal — yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan — di mana saja berada, seperti halnya ISIS, telah membuat masyarakat internasional terteror. Dengan kata lain, terorisme adalah masalah global.   Untuk melumpuhkan eksistensi mereka, tidak bisa lagi masing-masing negara bekerja sendiri-sendiri. Harus ada kerja sama internasional.

Namun, koalisi yang sekarang tidak boleh seperti di masa lalu. Koalisi kini dan di masa mendatang harus mencakup kerja sama di berbagai bidang. Tidak hanya dengan pengerahan pasukan dan bantuan militer atau inteligen, tapi juga harus mengepungnya dalam bentuk lain. Misalnya dalam bentuk undang-undang yang memungkinkan pencegahan aliran dana kepada kelompok-kelompok radikal.

Yang juga harus diingat, radikalisme adalah sebuah ideologi. Ia tidak bisa hanya ditumpas dengan kekuatan militer. Sebutlah al-Qaida misalnya.  Lebih dari sepuluh tahun lalu mungkin kita hanya tahu satu kelompok radikal yang didirikan dan dipimpin oleh Usamah bin Ladin itu.

Ketika al-Qaida dihantam oleh kekuatan pasukan  Koalisi yang dipimpin AS di Afghanistan, organisasi berhaluan garis keras itu justeru beranak-pihak dengan nama macam-macam. ISIS hanya salah satunya. Ia sesungguhnya sama dengan al-Qaida dengan bentuk dan nama lain.

Sekali lagi, Negara Islam di Irak dan Suriah itu mungkin akan mudah ditumpas oleh kekuatan koalisi. Namun, pertanyaannya kemudian, bagaimana bila ada kelompok radikal lain, sebut al-Hautsiyun di Yaman atau Anshoru as-Syariah di Libia melakukan hal yang sama atau lebih kejam daripada ISIS? Apakah setiap muncul kelompok radikal yang kemudian membesar dan mengancam keamanan dunia lalu dibentuk lagi yang namanya koalisi?

Karena itu, akan lebih baik bila koalisi yang sekarang dibentuk adalah untuk memerangi semua kelompok garis keras yang mengancam keamanan dunia. Solusi militer hanya salah satunya. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana mencegah ideologi radikal berkembang-biak di masyarakat. Dan, ini adalah tugas para ulama dan tokoh agama. Para ulama dari berbagai negara juga perlu membentuk koalisi untuk mencegal ideologi radikal menjalar di masyarakat.

(republika.co.id)

Posted in (*)

Dampak Krisis Ukraina, China dan Rusia Kian Mesra

Presiden China, Xi Jinping bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Dushanbe, Tajikistan

Presiden China, Xi Jinping bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Dushanbe, Tajikistan (Xinhua)
Hubungan Rusia dengan China kian mesra, khususnya paska terjadi krisis militer di Ukraina. Kedekatan itu kembali terlihat pada Kamis kemarin ketika Presiden Negeri Tirai Bambu, Xi Jinping bertemu Presiden Vladimir Putin di Dushanbe, Tajikistan.
Stasiun berita Channel News Asia, Jumat 12 September 2014 melaporkan keduanya bertemu dalam persiapan menuju KTT Organisasi Kerja sama Shanghai. Selain Rusia dan China, pertemuan tingkat tinggi itu turut dihadiri tiga negara lainnya yaitu Kazakhstan, Kirgistan, dan Uzbekistan.
Ini merupakan pertemuan keempat Xi dan Putin di tahun 2014. Kedua kepala negara saling menawarkan bantuan dalam menghadapi tantangan eksternal.
Masing-masing negara diketahui memiliki krisis. Moskow tengah menjadi sorotan dan dikritik oleh negara anggota Uni Eropa dan Amerika Serikat setelah menganeksasi Crimea dan diduga terlibat dalam konflik militer di timur Ukraina. Sementara Beijing, tengah menghadapi konflik sengketa wilayah di kawasan Laut China Selatan dengan beberapa negara seperti Jepang dan Vietnam.
Dalam pertemuan itu, Xi menyerukan agar kedua negara saling meningkatkan dukungan, memperluas keterbukaan dua arah dan saling membantu.
“Dengan adanya komitmen tersebut, diharapkan dapat menghadapi risiko eksternal, tantangan dan menyadari pembangunan dan revitalisasi yang ada,” ujar kantor berita pemerintah China, Xinhua.
Eratnya hubungan kedua negara juga terlihat ketika pada bulan Mei lalu, Putin berkunjung ke China. Di sana kedua kepala negara menandatangani kesepakatan distribusi gas yang telah dinegosiasikan selama 10 tahun. Nilai kontrak ditaksir mencapai US$400 miliar dan bertahan hingga 30 tahun mendatang.
Langkah Rusia ini merupakan bagian untuk mencari pasar selain di Eropa yang diprediksi akan terkena imbas konflik Ukraina. Putin menjelaskan situasi regional dan internasional yang tidak stabil dan tidak pasti. Sehingga, Xinhua menyebut kedua negara perlu untuk meningkatkan koordinasi.
Putin berharap, mereka dapat terus bergerak maju untuk meneruskan proyek di bidang minyak dan gas, energi nuklir dan sektor lainnya.
China bahkan secara terang-terangan menentang proposal Washington yang ingin menjatuhkan sanksi terhadap Rusia karena peristiwa di Ukraina. Kementerian Luar Negeri China menyatakan berbagai larangan yang diterapkan ke Moskow, malah tidak akan menyelesaikan permasalahan dan situasi.
“Krisis di Ukraina membutuhkan solusi politik. Apabila kami memberlakukan sanksi dari kejadian saat ini, maka sanksi biasanya tidak dapat menyelesaikan permasalahn. Sebaliknya, mereka dapat menyebabkan permasalahan baru yang justru tidak sesuai kepentingan semua pihak dan tujuan awal pemecahan konflik di sana,” papar Kemenlu China dan dikutip kantor berita Rusia, ITAR-Tass. (ita)

(viva.co.id)

Posted in (*)

10 Negara Timur Tengah Siap Dukung AS Serang ISIS

 

JEDDAH – Sepuluh negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, bersedia bergabung untuk melawan kelompok Daulah Islamiyah atau Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Hal itu disampaikan, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, setelah berunding di Jeddah, kemarin, (11/9).

“Beberapa negara Arab berperan penting dalam koalisi, dan membantu dukungan militer, bantuan kemanusiaan, usaha menghentikan aliran dana gelap dan petempur asing yang diperlukan ISIS atau Daulah Islamiyah,” ujar John Kerry, seperti dilansir dari BBC, Jumat, (12/9).

Menurutnya, tindakan ISIS harus dihentikan. Ia memang  berusaha membangun koalisi, demi melawan ISIS. Hanya saja, Rusia memperingatkan kepada Amerika Serikat untuk tak melancarkan serangan udara ke Suriah.

Selain Arab Saudi, beberapa negara turut hadir dalam pertemuan di Jeddah, seperti Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, serta Uni Emirat Arab. Anggota NATO, Turki juga hadir.

Mereka mengeluarkan peernyataan bersama, berisi komitmen untuk bersatu menghadapi ancaman semua teroris termasuk ISIS. Meski begitu, Turki tak ikut menandatangani pernyataan itu.

(republika.co.id)

Posted in (*)