Sukabumi

Meski Kalah, Nobar Persib Tetap Meriah

www.radarsukabumi.com

C19

KOMPAK:Bobotoh Persib saat mengikuti Nobar laga Persib vs Semen Padang di Graha Pena Radar Sukabumi, kemarin (16/2). FOTO:MULVI/RADARSUKABUMI

SUKABUMI – Ratusan bobotoh dari Viking Kerajaan Sukabumi memadati Gedung Graha Pena Radar Sukabumi, kemarin. Mereka sangat antusias mengikuti nonton bareng dan mendukung tim kesayangan masyarakat Jawa Barat ini. Meskipun tim kesayanggannya harus kalah 1-2 dari Semen Padang, ratusan bobotoh tetap begitu semangat dan membuat kemeriahan nobar tidak luntur sedikit pun.

Salah seorang bobotoh yang ikut menyaksikan laga pangeran biru (Persib, red) Dimas (20), mengaku kekalahan tim kesayangannya itu tak sedikit pun membuat dukungannya kepada Persib berkurang. Menurutnya, kalah menang merupakan suatu hal yang lumrah dalam sebuah pertandingan.

“Meskipun tidak mendapatkan poin pada pertandingan ini (Kemarin,red), saya akan tetap mendukung tim kebanggaan Jawa Barat ini,” ujarnya usai menonton laga Persib vs Semen Padang.

Tidak hanya itu, Ia mengatakan sebagai bobotoh sejati, dirinya merasa kekalahan tersebut harus dijadikan bahan evaluasi bagi Persib. Selain itu, Ia pun berharap seluruh bobotoh bisa secara konsisten mendukung Persib untuk mendorong Maung Bandung menjadi tim yang penuh prestasi.

“Saya harap dukungan kepada pangeran biru akan terus mengalir dari para bobotoh. Sehingga tim kesayangan masyarakat Jawa Barat ini bisa terus memperbaiki diri dan berkembang,” paparnya.

Pantauan Radar Sukabumi, suasana meriah terlihat dari nobar di Graha Pena Radar Sukabumi, kemarin. Ratusan bobotoh terlihat memenuhi ruangan dan meramaikan suasana disaat pertandingan Persib vs Semen Padang Berlangsung.

Kegiatan inipun mendapat apersiasi tinggi dari General Manajer Radar Sukabumi, Untung Bachtiar. Menurutnya, loyalitas bobotoh Sukabumi patut diacungi jempol. Ia merasa bangga dengan totalitas bobotoh yang menurutnya sangat luar biasa. “Kebersamaan seperti ini harus terus terjalin. Karena, kekuatan bangsa ini terletak dari kebersamaan,” katanya.

Sumber: radarsukabumi.com

Nelayan Palabuhanratu Protes Sibolga

A31

SEMPAT MEMANAS : Suasana pertemuan nelayan Palabuhanratu di Kantor TPI Palabuhanratu. Mereka memprotes kehadiran kapal Sibolga yang melakukan penangkapan ikan di Teluk Palabuhanratu.FOTO:RENDI/RADARSUKABUMI

PALABUHANRATU-Puluhan masyarakat nelayan Palabuhanratu geram atas kehadiran kapal besar Sibolga asal Sumatera yang beroperasi di perairan Teluk Palabuhanratu. Mereka mengaku hasil tangkapan ikan akhir-akhir ini berkurang setelah kehadiran kapal yang menggunakan alat tangkap ikan modern itu. Puluhan nelayan berkumpul di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Palabuhanratu sejak pagi hari, Senin (17/2).

Sebagian diantara mereka melakukan dialog di Kantor TPI Palabuhanratu dengan nelayan yang bekerja di kapal Sibolga, pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Sukabumi, pejabat dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sukabumi. Aksi mereka mendapat pengawalan ketat dari petugas Polsek Palabuhanratu dan Pos TNI AL.”Kehadiran kapal milik Sibolga di Teluk Palabuhanratu mengakibatkan penghasilan kami menurun drastis. Kapal tersebut masuk ke perairan tempat kami mencari nafkah,”gerutu Ade Suryana (55), salah seorang nelayan Palabuhanratu, kepada Radar Sukabumi.

Merekapun mempersoalkan rekan-rekannya yang menjadi kaki tangan para pemilik kapal Sibolga. Di mana, nelayan Palabuhanratu yang jadi kaki tangan si pemilik kapal Sibolga, sering menjadi penunjuk jalan dan pemberi informasi untuk memasuki rumpon-rumpon milik nelayan Palabuhanratu yang ikannya berjumlah banyak.”Alat yang mereka gunakan itu canggih ketimbang alat milik kami, sehingga mereka meraup banyak ikan di rumpon kami,”ungkapnya.

Dengan kejadian itu, warga nelayan meminta ada tindakan tegas pihak terkait.”Tindak tegas pihak Sibolga beserta nelayan yang sudah kerjasama dengan Sibolga, karena ini merugikan kami,”pintanya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Sukabumi, Dede Ola, menegaskan penangkapan ikan yang dilakukan pihak kapal Sibolga dinilai merupakan bentuk pencurian ikan di perairan Palabuhanratu. Hal itu tentunya harus ada tindakan tegas dari pihak berwenang, supaya masyarakat nelayan tidak mengeluhkan hasil tangkapannya saat mereka melaut.”Kami menilai ini adalah bentuk ilegal fishing, tentunya harus dilakukan tindakan tegas,” tegasnya.

Terkait dengan empat nelayan yang sudah melakukan kerjasama dengan pihak Sibolga, Dede mengaku sangat menyayangkan dengan langkah yang dilakukan nelayan tersebut. Pasalnya, kendati mereka memberikan informasi banyak kepada pihak Sibolga, para nelayan itu hanya diberi hasil tangkapan ikan alakadarnya, sedangkan yang paling banyak itu dibawa oleh pihak Sibolga ke tempat asal mereka.”Tentunya kami menyayangkan dengan sikap keempat nelayan itu, hasilnya tidak seberapa yang didapat dan terkesan mereka hanya dijadikan alat kepentingan Sibolga saja,” paparnya.

Namun demikian, Dede mengaku tidak sepenuhnya menyalahkan keempat nelayan tersebut. Pihaknya menyayangkan dengan kinerja dinas yang selama ini yang terbilang rendah dalam melakukan pengawasan baik di perairan maupun di pasar pelelangan ikan. Sehingga, kejadian Sibolga mengambil ikan di perairan Palabuhanratu baru ditindak lanjuti, setelah masyarakat nelayan geram.”Kami berharap, dinas terkait bisa lebih optimal dalam melakukan pengawasan baik di perairan ataupun di pasar ikan. Supaya, antara penangkapan dengan penjualan hasil penangkapan nelayan bisa seimbang. Kami yakin, kalau pengawasan ini berjalan optimal dan maksimal, tidak akan terjadi kejadian seperti ini,” pungkasnya.

Kepala Seksi (Kasi) Pengembangan Teknologi Penangkapan Ikan pada Bidang Perikanan Tangkap DKP Kabupaten Sukabumi, Deden Abdul Kohar menjelaskan, memberikan sanksi tegas kepada empat nelayan itu. Mereka dalam waktu 1 x 24 jam, harus menyerahkan surat-surat usaha melaut mereka.”Selama satu bulan ke depan, Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI) mereka akan kami tahan dan untuk sementara tidak diijinkan melaut. Jika kemudian mereka masih tetap melanggar kesepakatan, DKP akan mencabut surat ijin melaut atas nama mereka,” tegasnya.

Deden juga mengaku mendapat informasi, bahwa Kapal Sibolga selain menangkap ikan di rumpon miliknya sendiri juga menjaring ikan di rumpon-rumpon nelayan Palabuhanratu. Hal inilah yang menjadi faktor penyebab menurunnya hasil tangkapan para nelayan Palabuhanratu sehingga mereka geram.”Intinya, masyarakat nelayan tidak menghendaki Sibolga di perairan ini, lantaran merugikan kepada para nelayan. Bagi nelayan yang melanggar, akan dilakukan tindakan tegas,” tandasnya. (ren/t)

Sumber: radarsukabumi.com

Habieb Riziek Tolak Demokrasi

BERI PENCERAHAN : Ketua Umum DPP FPI Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab menyampaikan ceramahnya di depan warga Palabuhanratu.

BERI PENCERAHAN : Ketua Umum DPP FPI Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab menyampaikan ceramahnya di depan warga Palabuhanratu.

PALABUHANRATU–Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab mentang keras Indonesia disebut negara demokrasi. Penolakan tersebut ditegaskan pria yang kerap dipanggil Habib Rizieq itu disampaikan dalam tablig akbar Haol habib Abdillah in Muhammad Bin Sumith di majelis Dzikir Al-Khoeriyyah, Kiaralawang, Palabuhanratu Senin (29/4) malam.

Pria kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1965 itu menjelakan status paham NKRI tersebut bukanlah negara demokrasi. “Negara kita melainkan berdasarkan musyawarah, bukan demokrasi. Karena sudah jelas dalam UUD 1945 dan Pancasila dalam sila ke empat. Dalam sila keempat disebutkan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. tidak ada sila demokrasi,” jelasnya.

Menurut sejarah, masih kata Habib, ketika perdebatan tentang dasar negara sebelum kemerdekaan diproklamirkan, Dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 Mei 1945, Muhammad Yamin mengusulkan Lima Dasar Negara tanpa menggunakan istilah Pancasila. Lima Dasar Negara usulan M. Yamin yakni, Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan dan Kesejahteraan Sosial. Pada sidang terakhir BPUPKI 1 Juni 1945 Soekarno juga mengajukan Lima Dasar yakni, Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan, 3. Mufakat atau Demokrasi, Keadilan Sosial, dan Ketuhanan.
“Baik usulan Soepomo, Yamin maupun ‘Pancasilanya Soekarno’, itu tidak pernah menjadi kesepakatan maupun keputusan BPUPKI,” sebutnya.

Lebih dalam Habib Rizieq menjelaskan, saat itu sidang pun berjalan alot. Sehingga BPUPKI terbelah antara kelompok sekuler dengan kelompok Islam. Kelompok Islam sudah tentu menginginkan Negara berdasarkan Islam, dan ditentang kelompok sekuler. Akhirnya sidang membentuk Panitia Sembilan. “Ada empat ulama dalam Panitia Sembilan ini, yaitu KH Abdul Wahid Hasyim (NU), KH Abdul Qohar Muzakkir (Muhammadiyah), KH Agus Salim dan Abikoesno Tjokrosoejoso, keduanya dari Syarikat Islam,” ujar Rizieq. Sementara golongan sekuler diwakili Soekarno, M. Hatta, M. Yamin dan Ahmad Soebardjo. Dan, kalangan Kristen diwakili AA Maramis.
Habib Rizieq menegaskan, justru Panitia Sembilan yang berhasil menetapkan Dasar Negara yang dibingkai dalam Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. Lima Dasar Negara itu yakni, Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab, ketiga Persatuan Indonesia, keempat Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan kelima Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Malah sebelumnya, bunyi sila pertama versi Piagam Jakarta itu adalah ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam, tanpa diikuti kalimat bagi pemeluk-pemeluknya. Tetapi kemudian muncul kompromi dengan menambah kalimat ‘bagi pemeluk-pemeluknya’. Disepakati pula saat proklamasi kemerdekaan, Piagam Jakarta ini secara resmi akan dibacakan. Tapi, kata Habib Rizieq, terjadi penelikungan. Pada 17 Agustus 1945 itu bukan Piagam Jakarta yang secara resmi dibacakan, melainkan secara dadakan Soekarno membuat teks proklamasi dengan singkat lewat tulisan tangan. Teks proklamasi dadakan dan singkat inilah yang dibacakan untuk proklamasi kemerdekaan sebagaimana dikenal sampai sekarang.

Parahnya lagi, pada keesokan harinya, 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersidang, dan terjadilah terjadi pengkhianatan. Tanpa melibatkan wakil-wakil Islam sebagaimana dalam sidang BPUPKI sebelumnya, terjadilah pencoretan tujuh kata dalam sila pertama yang berbunyi ‘kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’.

Dalih bahwa kalangan Kristen Indonesia Timur akan menarik diri dari NKRI jika Piagam Jakarta dideklarasikan seperti disampaikan Hatta yang, katanya, mendapat informasi dari opsir Jepang, menurut sejarawan dan budayawan Ridwan Saidi, itu dusta belaka. Tak ada faktanya.

Tanpa melibatkan wakil-wakil islam dalam pengesahan Dasar Negara Pancasila yang berbeda dengan Piagam Jakarta, sesungguhnya siding PPKI 18 Agustus 1945 itu tidak sah. Jadi, sebenarnya sampai sekarang jika umat Islam menegakkan syariat Islam di republik ini adalah sah. Yang berlawanan atau menentang, justru masuk kategori subversif.

Meski demikian, lanjut Habib, sila pertama yang diganti dengan tanpa melibatkan wakil-wakil Islam menjadi ketuhanan Yang Maha Esa. Itu pun jelas maksudnya Allah Subhanahu Wata’ala. Sebab, Tuhan Yang Esa itu hanya ada dalam Islam. Ditambah lagi ditegaskan dalam Muqaddimah UUD 1945 pada alenia ketiga: atas berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa, ini jelas merujuk kepada Islam.

Dengan pengkhianatan ini, sesungguhnya sidang PPKI yang tak melibatkan wakil-wakil Islam yang sudah menyepakati Piagam Jakarta bersama kelompok sekuler dan satu orang wakil dari golongan Kristen, adalah tidak sah. Dasar Negara yang sah adalah yang disepakati dan ditandatangani pada 22 Juni 1945 yang terdapat dalam Piagam Jakarta. “Historisnya, Pancasilanya Soekarno ditolak. Yang disepakati adalah Dasar Negara yang terdapat dalam Piagam Jakarta,” ungkap Habib Rizieq.

Lantas, kata Habib Rizieq, bagaimana ceritanya ujuk-ujuk Indonesia disebut sebagai Negara Demokrasi? Pancasila yang dijadikan sebagai Dasar Negara (lewat pengkhianatan) itu tidak menyebut republik ini sebagai sebagai Negara Demokrasi.

Tapi, lucunya, ungkap Habib Rizieq, Soekarno pernah mendeklarasikan Demokrasi Liberal dan Demokrasi terpimpin untuk tujuan melindungi Komunisme. Sementara Soeharto mendeklare Demokrasi Pancasila untuk melindungi Kebatinan. “Jadi tidak ada kata demokrasi dalam pancasila yang ada musyawarah,” tegasnya.

Habib menyebutkan, jika Soekarno mendeklare demokrasi liberal dan demokrasi terpimpin dan Soeharto memaksakan istilah demokrasi pancasila, di era reformasi lebih parah. “Ada liberalisasi Pancasila. Seperti pemilihan langsung,” bebernya.

Pemilihan presiden atau kepala daerah yang dilipih langsung itu justru bertentangan dengan sila keempat Pancasila yang menganut asas musyawarah untuk mufakat. “Dalam konteks ini ada unsure kesengajaan dengan mengorupsi terminologi (istilah). Dengan menafsirkan kata musyawarah seenaknya oleh kelompok skuler, sehingga kata Musyawarah ditafsirkan sebagai demokrasi,” kritiknya.

“Jika ada yang menentang dengan kata syariat islam di NKRI bahkan haarus keluar. Sebaliknya orang yang menentang syariat islam di Indonesia yang harus keluar,” sambungnya.

Jadi, masih kata Habieb, sangat sah jika Indonesia berada dalam NKRI menegakkan syariat Islam. “Negara yang berlandaskan Islam, menjalankan syariat Islam, setidaknya bagi para pemeluknya—dan bukan Negara Pancasila, apalagi Negara Demokrasi,”.tukasnya.haol tersebut dihadiri ketua DPRD kabupaten Sukabumi, badri Suhendi, kapolres Sukabumi, AKBP Asep Edi Suherid an Dandim 0622 Kabupaten Sukabumi, Letkol (Inf) Fifin Firmansyah. (ryl/s)

Sumber : radarsukabumi.com

Pelabuhan Ratu – Pedagang Dua Pasar Dihimbau Lunasi ‘DP’

SIDAK PASAR : Bupati Sukabumi Sukmawijaya ditemani Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Badri Suhendi dan Dirut PT Patirindo Tama Bersama Giyanto, saat melakukan pemantauan pembangunan Pasar Semi Modern Palabuhanratu. perli radar

SIDAK PASAR : Bupati Sukabumi Sukmawijaya ditemani Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Badri Suhendi dan Dirut PT Patirindo Tama Bersama Giyanto, saat melakukan pemantauan pembangunan Pasar Semi Modern Palabuhanratu. perli radar

PALABUHANRATU–Bupati Sukabumi, Sukmawijaya menghimbau kepada pembeli kios Pasar Semi Modern Palabuhanratu dan Cibadak agar segera melunasi pembayaran down payment (DP) atau uang muka 20 persen dari nilai total harga kios yang dipesan. Permintaan itu ia sampaikan saat sidak bersama Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Badri Suhendi, Kapolres Sukabumi AKBP Asep Edi Suheri dan Manajer Bank BJB Palabuhanratu, Arwin Aldriant di lokasi pembangunan Pasar Semi Modern Palabuhanratu.

Sukmawijaya menyebutkan, saat pemungutan uang muka 20 persen sebelum adanya pembangunan memang harus dilihat keseriusan terlebih dahulu. Namun saat ini, PT Patirindo Tama Bersama (PT PTB) selaku developer pembangunan pasar itu sudah melakukan pembangunan nyaris mencapai 50 persen.

“Jadi saya berharap, konsumen yang sudah memesan ruko, kios, los dan leprakan agar segera melunasi uang muka 20 persen sesuai yang disosialisasikan. Dan saya juga berharap diskoperindag segera mengkomunikasikan kepada pemesan agar segera membayar. Ini agar jalannya pembangunan juga bisa diseimbangkan,” imbaunya.

Senada dikatakan Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Badri Suhendi. menurutnya, untuk mempercepat pembangunan pasar tersebut tinggal dibutuhkan keseriusan minat konsumen yang memesan kios sebagai calon penghuni Pasar Semi Modern. “Keseriusan itu dibuktikan dengan melunasi uang muka 20 persen sesuai ketentuan. Jadi harus balance (seimbang). Developer harus segera menyelesaikan pekerjaannya dan konsumen memenuhi kewajibannya. Sehingga pasar semi modern ini bisa segera diisi,” harapnya.

Sedangkan Direktur PT PTB, Giyanto menyebutkan, hingga kini pihaknya baru menerima pelunasan uang muka sebanyak 177 dari 1180 kios yang dipesan. Itu artinya, pihaknya baru menerima uang muka dari pemesan kios tidak lebihd ari 15 persen. “Kami juga sudah memulai membuka Kredit pertama yang 177 kios itu. Kredit yang kami gunakan Kredit usaha rakyat (KUR) yang nilai bunganya hanya 13 persen. Jadi bagi warga pasar tidak usah khawatir karena kami sudah jaminkan. Dan kami harap pemesan agar segera melunasi uang muka yang 20 persen itu,” bebernya diamini Manajer Bank bjb Palabuhanratu, Adwin Aldriant.

Sementara itu, Kadiskoperindag Kabupaten Sukabumi Asep Japar menambahkan, pembayaran DP 20 persen itu jelas sangat urgent. Sebab, ia tak mau pembangunan dua pasar yakni Palabuhanratu dan Cibadak yang masih digenjot sedikit terhambat karena minimnya partisipasi pedagang. Sejauh ini, dengan adanya konsep pasar semi modern, pemerintah ingin memberikan yang terbaik kepada pedagang dengan sarana fisik pasar yang nyaman, bersih dan aman. “Konsekuensinya, pedagang juga harus taat kepada komitmennya bersama kami dan pihak ketiga yang ditunjuk untuk menyelesaikan pembangunan pasar,” tegasnya. (ryl/veg/e)

Sumber : radarsukabumi.com

Pantai Cimaja, Ini Dia Tempat Cocok untuk Surfer Pemula

Pantai Cimaja (Debby Simarmata/ACI)

Tak perlu jauh-jauh ke Bali untuk berlajar surfing, karena di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat terdapat Pantai Cimaja yang bisa dijadikan pilihan. Ombaknya tinggi, tapi aman untuk para surfer pemula.

Dikutip dari situs resmi Pariwisata Indonesia, Rabu (27/6/2012), Cimaja berjarak sekitar 120 km dari Jakarta. Sebenarnya pantai ini sudah lama jadi tempat para penyuka olahraga air, khususnya berselancar, tapi memang namanya kurang dikenal. Ombaknya yang cukup besar cocok untuk berlatih surfing.

Berada di sebelah selatan Pulau Jawa, Cimaja selalu memanjakan para pengunjungnya. Tidak hanya domestik, wisatawan lokal juga sering berdatangan ke pantai ini. Bahkan sebagian dari mereka banyak yang membawa papan selancar pribadi untuk menjajal ganasnya ombak.

Gulungan ombaknya memang terbilang dahsyat, tapi tidak jarang pengunjung datang untuk belajar surfing. Lokasinya yang tidak jauh dari Jakarta menjadi pilihan jika dibandingkan harus terbang ke Bali.

Maka tak heran jika Cimaja juga sering dijadikan sebagai tempat digelarnya perlombaan berselancar, baik nasional maupun tingkat internasional. Tidak hanya digunakan sebagai tempat lomba, Cimaja ternyata juga melahirkan banyak surfer andal yang mampu bersaing dengan atlet mancanegara.

Bagi Anda yang tidak tertarik dengan olahraga yang satu ini, Cimaja masih punya pesona lainnya, yaitu pemandangan yang cantik. Keindahannya akan memanjakan mata Anda. Anda bisa berjalan-jalan sambil menghirup udara yang masih sangat bersih di sini. Pasir pantainya cukup bersih dan jarang ditemukan karang-karang tajam.

Saat langit mulai berganti cahaya menjadi kekuningan, jangan lekas kembali ke penginapan. Puaskan perjalanan Anda dengan menikmati indahnya matahari yang perlahan mulai tenggelam. Para surfer yang belum juga puas bercengkrama dengan ombak membuat pemandangan makin indah. Kalau sudah begini, jangan lupa untuk mengabadikannya ke dalam kamera pribadi Anda.

Asyiknya lagi, pantai ini dekat dengan Pantai Ujung Genteng dan Pantai Ombak Tujuh yang juga terkenal dengan ombak besar dan panorama yang indah. Jadi, pilihan pantai dan jenis ombak pun jadi banyak tersedia.

Sumber : http://travel.detik.com/

 

PEMBANGKIT LISTRIK: PLTU Pelabuhan Ratu Ditargetkan Operasi Tahun Ini

4 Maret 2013

SUKABUMI –  Pembangkit Listrik Tenaga Uap Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ditargetkan beroperasi pada tahun ini.

“Pembangunan PLTU sudah rampung 98%.  Satu dari tiga pembangkit listrik sudah dalam tahap sinkronisasi, dan diharapkan tahun ini juga seluruh pembangkit bisa dioperasikan untuk pasokan listrik di Pulau Jawa dan Bali,” kata Manager Proyek Pembangunan PLTU Pelabuhan Ratu Budi Widi Asmoro, Senin (4/3).

Menurut Budi, semua persiapan untuk pengoperasian PLTU ini sudah hampir rampung. Namun, untuk mengoperasikan tiga pembangkit listrik yang satu pembangkitnya bisa menghasilkan kekutan sebesar 350 megawatt atau jika ketiganya sudah dibangkitkan berarti 1050 MW perlu dilakukan sinkronisasi oleh tenaga ahli.

Namun, dia optimistis pada tahun ini PLTU Pelabuhan Ratu bisa segera dioperasikan, jika sudah beroperasi maka pasokan listrik untuk Pulau Jawa dan Bali bisa terpenuhi dan diharapkan tidak ada pemadaman listrik bergilir lagi, maupun kekurangan pasokan.

“Kami terus berupaya agar PLTU bisa dioperasikan, karena kebutuhan listrik di dua pulau ini cukup tinggi, sehingga dengan adanya pasokan listrik dari sini permasalahan tentang listrik diharapkan bisa teratasi,” tambahnya.

Luas lahan PLTU Palabuhanratu yakni 86,2 hektare yang berada di Kampung Cipatuguran, Desa Citarik, Kecamatan Pelabuhan Ratu. Anggaran untuk pembangunan ini berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp8 triliun.

Tahap awal pembangunan PLTU ini berlangsung pada 2010 lalu, serta target pembangunan dilaksanakan selama 3-4 tahun. (Antara/bas)

Sumber : bisnis.com

 

PLTU Pelabuhan Ratu Gelar Operasi Katarak Gratis

SUKABUMI,(GM)- Sebagai bentuk kepedulian, PLN Distribusi Jaringan Jabar dan Banten (DJBB), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Palabuhanratu, Kab. Sukabumi bekerjasama dengan Persatuan Dokter Mata Cicendo (PDMC), melakukan op erasi katarak gratis bagi 70 warga di wilayah Palabuhanratu dan sekitarnya.

Operasi dilangsungkan di halaman PLTU Palabuhanratu di Kp. Cipatuguran, Desa Citarik, Kec. Palabuhanratu, Kab. Sukabumi, Senin (19/12). Hadir pada acara itu sejumlah Muspika Kec. Palabuhanratu dan pejabat DJBB.

Hadir pula Humas PLN DJBB Agus Yuswata, Asisten Manajer (Asmen) Keuangan dan Sumber Daya Manusia (SDM) PLN APJ Sukabumi, Ir. Dede Komara, Humas PLN, Harry Sas dan Manajer PLN UPJ Palabuhanratu, H. Cecep serta sejumlah tokoh masyarakat dan pemuda setempat.

Humas PLN DJBB Agus Yuswata kepada “GM” mengungkapkan, sebagai bentuk kepedulian, DJBB menyelenggarakan operasi katarak massal. Kali ini, operasi dilakukan di tiga daerah, di antaranya di PLTU Palabuhanratu, Kab. Sukabumi, PLTU Labuan Banten, dan PLTU Indramayu.

“Untuk kali ini, di PLTU Palabuhanratu telah dilakukan operasi katarak pada 70 orang, PLTU Labuan Banten 68 orang, disusul PLTU Indramayu sebanyak 30 orang. Operasi katarak dilakukan secara serempak di tiga lokasi PLTU di Jabar itu,” katanya.

Ia mengungkapkan, operasi ini menjadi salah satu bentuk kontribusi CSR PLN DJBB, utamanya di bidang kesehatan. “Kami berharap operasi katarak ini bisa terus menurunkan jumlah penderita katarak di Jabar,” katanya.

Sumber : pln.co.id

Melongok Korban Puting Beliung di Palabuhanratu dan Simpenan

Sempat Trauma Lantaran Takut Datang Kembali

Sebanyak 216 rumah di Desa Jayanti Kecamatan Palabuhanratu dan di Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan tercatat rusak akibat disapu angin puting beliung. Sedikitnya ada empat rumah yang mengalami rusak berat dan tujuh rumah yang mengalami rusak sedang. Lalu apa yang kini dilakukan korban setelah rumah miliknya itu lenyap disapu bersih?

PERLI RIZAL, PALABUHANRATU,–

RUMAH Yang rusak itu kebanyakan didominasi rumah yang berlantai tanah dan tak layak huni. Kondisi itu yang terlihat setelah empat rumah di dua desa itu rusak berat akibat disapu angin puting beliung. Kini Pemerintah Daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi sudah mendirikan tempat tinggal sementara berupa tenda di lahan rumah yang sudah rusak.

Misalnya Kae (80). Warga Kampung Pasirhonje, Desa Jayanti, Kecamatan Palabuhanratu itu harus tinggal di rumah saudaranya yang tak jauh dari rumah yang rata dengan tanah lantaran menjadi korban tertimpa reruntuhan. Beruntung, Ny Kae hanya mengalami luka ringan dibagian pundak dan punggungnya.

Ketua DPRD kabupaten Sukabumi, Badri Suhendi pun turut memberikan bantuan berupa matrial agar rumah korban segera dibangunkan kembali. badri juga melihat kondisi Ny kae yang tengah mendapatkan penanganan medis dari Puskesmas Palabuhanratu.

Meski kegiatan mulai putih, namun warga merasa was-was dan khawatir jika angin puting beliung kembali menghampiri kampung halamannya. Seperti yang diakui korban lainnya Yeni (30). Yeni yang rumahnya hancur berantakan itu mengaku takiut jika angin puting beling kebali datang. “Takut ada lagi. Anginnya benar-benar seram. Rumah kami rusak parah dan sementara kami mengikuti arahan pemerintah untuk tinggal di tenda. karena kami tidak memiliki tempat tinggal lagi,” katanya.(**/s)

Sumber : radarsukabumi.com

Nelayan Palabuhanratu Protes Sibolga

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=99371